Fara08’s Blog

Mukjizat Al Quran

Posted on: April 2, 2009

AL QUR’AN SEBAGAI MU’JIZAT

Alquran adalah kitab petunjuk bagi seluruh manusia (hudan li al-nas), yang di dalamnya juga mengandung penjelasan (bukti-bukti) sebagai petunjuk. Bukti-bukti itulah yang kita katakan sebagai mukjizat, karena engan bukti-bukti tadi manusia tidak dapat mengingkari kebenaran isi Alquran. mu’jizat artinya sesuatu yang luar biasa yang tiada kuasa manusia membuatnya karena hal itu adalah di luar kesanggupannya.Mu’jizat ini hanya diberikan kepada nabi-nabi untuk menguatkan kenabian dan kerasulannya,dan bahwa agama yang dibawanya bukanlah bikinannya sendiri tetapi benar-benar dari Allah s.w.t. kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w. telah diberikan mu’jizat yang bermacam-macam,seperti tongkat yang diberikan kepada nabi Musa a.s. yang dapat menelan semua ular yang didatangkan tukang-tukang sihir Fir’aun dan dapat membelah laut,sehingga nabi Musa a.s. dan kaumnya dapat menyelamatkan diri dari kejaran tentara Fir’aun dengan menyebrangi laut yang telah terbelah dua dan akhirnya Fir’aun dan tentaranya karam di lautan(Q.S Asy Syu’araa : 45,dan 63-66)

Mu’jizaat yang dapat menghidupkan orang mati dan sebagainya yang diberikan kepada nabi Isa a.s.sebagai tersebut dalam surat Ali ‘Imran : 49

» ARTINYA

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang Berkata kepada mereka): “Sesungguhnya Aku Telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; Kemudian Aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan Aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan Aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.(Q.S. Ali Imran : 49).

Unsur-Unsur Kemukjizatan Al-Qur’an

Setelah secara global kita mengetahui bahwa Al-Qur’an merupakan kalam dan mukjizat Ilahi, kami akan menjelaskan lebih luas lagi unsur-unsur kemukjizatan kitab suci ini.

1. Kefasihan dan Keindahan Al-Qur’an

Unsur pertama kemukjizatan Al-Qur’an ialah kefasihan dan balaghah-nya. Artinya, untuk menyampaikan maksud dan tujuan dalam setiap masalah, Allah SWT menggunakan kata dan kalimat yang paling lembut, indah, ringan, serasi, dan kokoh. Melalui cara tersebut, Dia menyampaikan makna-makna yang dimaksudkan kepada para mukhathab (audiens), yaitu melalui sastra yang paling baik dan mudah dipahami.

Tentunya, tidak mudah memilih kata dan kalimat yang akurat dan sesuai dengan makna-makna yang tinggi dan mendalam kecuali bagi orang yang telah menguasai sepenuhnya ciri-ciri kata, makna yang dalam dan hubungan imbal balik antara kata dan maknanya agar dapat memilih kata dan ungkapan yang paling baik dengan memperhatikan seluruh dimensi, kondisi dan kedudukan makna yang dimaksudkan. Pengetahuan lengkap tentang hal itu tidak mungkin dapat dicapai oleh siapapun kecuali dengan bantuan wahyu dan ilham Ilahi

Sesungguhnya setiap manusia dapat mengetahui sejauh mana kandungan Al-Qur’an yang mencakup nada malakuti dan irama yang syahdu. Setiap orang yang mengetahui bahasa Arab, ilmu kefasihan dan keindahannya (Balaghah), pasti dapat menyentuh keunggulan sastra Al-Qur’an.

Adapun untuk mengetahui kemukjizatan Al-Qur’an dari unsur balaghah, kefasihan dan keindahan bahasanya, tidaklah mudah kecuali bagi orang-orang yang memiliki pengalaman dan spesialisasi di dalam pelbagai ilmu sastra Arab dan melakukan perbandingan antara keistimewaan-keistimewaan Al-Qur’an dan berbagai macam bahasa yang fasih dan baligh, serta menguji kemampuan mereka dengan melakukan analogi dalam hal itu. Pekerjaan semacam ini tidak sulit dilakukan kecuali oleh para penyair dan sastrawan Arab, karena keistimewaan orang-orang Arab yang paling menonjol pada masa diturunkannya Al-Qur’an ialah ilmu Balaghah dan sastra. Puncak kemahiran mereka pada masa itu tampak ketika mereka mengadakan pemilihan bait-bait kasidah dan syair—setelah diadakan penelitian dan penilaian yang merupakan kegiatan seni dan sastra yang paling besar.

2. Ke-ummi-an Nabi saw

Kendati ukurannya tidaklah besar, Al-Qur’an adalah kitab suci yang mancakup berbagai pengetahuan, hukum-hukum dan syariat, baik yang bersifat personal maupun sosial. Untuk mengkaji secara mendalam setiap cabang ilmu tersebut memerlukan kelompok-kelompok yang terdiri dari para ahli di bidangnya masing-masing, keseriusan yang tinggi dan masa yang lama agar dapat diungkap secara bertahap sebagian rahasianya, dan agar hakikat kebenarannya bisa digali lebih banyak, meski hal itu tidak mudah, kecuali bagi orang-orang yang betul-betul memiliki ilmu pengetahuan, bantuan dan inayah khusus dari Allah SWT.

Al-Qur’an mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang paling tinggi, paling luhur dan berharga nilai-nilai akhlaknya, paling adil dan kokoh undang-undang pidana dan perdatanya, paling bijak tatanan ibadah, hukum-hukum pribadi dan sosialnya, paling berpengaruh dan bermanfaat nasehat-nasehat dan wejangannya, paling menarik kisah-kisah sejarahnya, dan paling baik metode pendidikan dan pengajarannya. Singkat kata, Al-Qur’an mengandung seluruh dasar-dasar yang dibutuhkan oleh setiap manusia untuk merealisasikan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Semuanya itu dirangkai dengan susunan yang indah dan menarik yang tidak ada bandingannya, sehingga semua lapisan masyarakat dapat mengambil manfaat darinya sesuai dengan potensi mereka masing-masing.

Terangkumnya semua ilmu pengetahuan dan hakikat di dalam sebuah kitab seperti ini mengungguli kemampuan manusia biasa. Akan tetapi yang lebih mengagumkan dan menakjubkan adalah bahwa kitab agung ini diturunkan kepada seorang manusia yang tidak pernah belajar dan mengenyam pendidikan sama sekali sepanjang hidupnya, serta tidak pernah walaupun hanya sejenak memegang pena dan kertas. Ia hidup dan tumbuh besar di sebuah lingkungan yang jauh dari kemajuan dan peradaban.

Yang lebih mengagumkan lagi, selama 40 tahun sebelum diutus menjadi nabi, ia tidak pernah terdengar ucapan mukjizat semacam itu. Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an dan wahyu Ilahi yang beliau sampaikan pada masa-masa kenabiannya memiliki metode dan susunan kata yang khas dan berbeda sama sekali dari seluruh perkataan dan ucapan pribadinya. Perbedaan yang jelas antara kitab tersebut dengan seluruh ucapan beliau dapat disentuh dan disaksikan oleh seluruh masyarakat dan umatnya. Sekaitan dengan ini, Allah SWT berfirman ARTINYA

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; Andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu). (QS. Al-‘Ankabut: 48)

Pada ayat yang lainnya Allah SWT berfirman, ARTINYA

Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya Aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya Aku Telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya[677]. Maka apakah kamu tidak memikirkannya?

[677]  Maksudnya: sebelum Al Quran diturunkan. (QS.Yunus: 16)

Dan kemungkinan besar bahwa ayat 23 surah Al-Baqarah yang menegaskan, ARTINYA

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

[31]  ayat Ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa Karena ia merupakan mukjizat nabi Muhammad s.a.w.(QS.Al Baqarah:23)

menunjukan unsur kemukjizatan ini. Yakni, kemungkinan besar kata ganti “nya” yang terdapat pada kata “serupa dengannya” itu kembali kepada kata “hamba Kami”.

Kesimpulannya, barangkali kita berasumsi—tentu mustahil—bahwa ratusan kelompok yang terdiri dari para ilmuan yang ahli di bidangnya masing-masing bekerja sama dan saling membantu itu mampu membuat kitab yang serupa dengan Al-Qur’an. Namun, tidak mungkin bagi satu orang yang ummi (tidak belajar baca-tulis sama sekali) mampu melakukan hal tersebut. Dengan demikian, kedatangan Al-Qur’an dengan segenap keistimewaan dan keunggulannya dari seorang yang ummi merupakan unsur lain dari kemukjizatan kitab suci itu.

3. Konsistensi Kandungan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci yang Allah turunkan selama 23 tahun dari kehidupan Nabi Muhammad saw, yaitu masa-masa yang penuh dengan berbagai tantangan, ujian dan berbagai peristiwa yang pahit maupun yang manis. Akan tetapi, semua itu sama sekali tidak mempengaruhi konsistensi dan kepaduan kandungan Al-Qur’an serta keindahan susunan katanya. Kepaduan dan ketiadaan ketimpangan dari sisi bentuk dan kandungannya merupakan unsur lain dari kemukjizatan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman,

ARTINYA“Apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an. Seandainya Al-Qur’an itu datang dari selain Allah, pasti mereka akan menemukan banyak pertentangan.” (QS. An-Nisa’: 82)

Penjelasannya: minimalnya, setiap manusia menghadapi dua perubahan. Pertama, pengetahuan dan pengalamannya itu akan bertambah dan berkembang. Semakin bertambah dan berkembangnya pendidikan, pengetahuan, pengalaman, dan kemampuannya, akan semakin mempengaruhi ucapan dan perkataannya. Sudah sewajarnya akan terjadi perbedaan yang jelas di antara ucapan-ucapannya itu sepanjang masa dua puluh tahun.

Kedua, berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan berdampak pada berbagai kondisi jiwa, emosi dan sensitifitasnya, seperti putus asa, harapan, gembira, sedih, gelisah, dan tenang. Perbedaan kondisi-kondisi tersebut berpengaruh besar dalam cara pikir seseorang, baik pada ucapannya maupun pada perbuatannya. Dan, dengan banyak dan luasnya perubahan tersebut, maka ucapannya pun akan mengalami perbedaan yang besar. Pada hakikatnya, terjadinya berbagai perubahan pada ucapan seseorang itu tunduk kepada perubahan-perubahan yang terjadi pada jiwanya.

Dan hal itu pada gilirannya tunduk pula kepada perubahan kondisi lingkungan dan sosialnya.  Kalau kita berasumsi bahwa Al-Qur’an itu ciptaan pribadi Nabi saw sebagai manusia yang takluk kepada perubahan-perubahan tersebut, maka—dengan memperhatikan berbagai perubahan kondisi yang drastis dalam kehidupan beliau—akan tampak banyaknya kontradiksi dan ketimpangan di dalam bentuk dan kandungannya. Nyatanya, kita saksikan bahwa Al-Qur’an tidak mengalami kontradiksi dan ketimpangan itu. Maka itu, kepaduan, konsistensi dan ketiadaan kontradiksi di dalam kandungan Al-Qur’an serta ihwal kemukjizatannya ini merupakan bukti lain bahwa kitab tersebut datang dari sumber ilmu yang tetap dan tidak terbatas, yakni Allah Yangkuasa atas alam semesta, dan tidak tunduk pada fenomena alam dan perubahan yang beraneka ragam.

Demikian pula kepada nabi besar Muhammad s.a.w. telah diberikan beberapa mu’jizat di antaranya israa’ dan mi’raj dalam waktu satu malam sebagai tersebut dalam surat Al Israa’ ayat 1

artinya: Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya[847] agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

[847]  Maksudnya: Al Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkat dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.(QS.Al Israa:1)

Dan keluarnya air dari ujung jarinya ketika ketiadaan air.Mu’jizat yang terbesar yang diberikan kepada nabi Muhammad s.a.w. adalah Al Qur’an,suatu mu’jizat yang dapat disaksikan oleh seluruh umat manusia sepanjang masa,karena beliau diutus oleh Allah untuk keselamatan manusia dimana dan di masa apapun mereka berada.oleh sebab itu Allah menjamin keselamatan Al Qur’an sepanjang masa.ARTINYASesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya[793].[793]  ayat Ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.(QS Al Hijr : 9)

ARTINYA

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.(Q.S. Al-Israa’: 88)

AL QUR’AN DAN ILMU PENGETAHUAN

Al Qur’anul karim sebagai suatu mu’jizat yang terbesar bagi nabi Muhammad S.A.W.,amat dicintai oleh kaum muslimin,karena fashahah serta balaghahnya dan sebagai sumber petunjuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.hal ini terbukti dengan perhatian yang amat besar terhadap pemeliharaannya semenjak turunnya di masa Rasulullah sampai kepada tersusunnya sebagai suatu mushhaf di masa utsman bin ‘affan. Kemudian sesudah utsman, mereka memperbaiki tulisannya dan menambah harakat dan titik pada huruf-hurufnya, agar supaya mudah dibaca oleh umat islam yang belum mengerti bahasa arab.

Karena kecintaannya kepada Al Qur’an, dan untuk membuktikan kebenarannya, mereka mengarang dan menejemahkan bermacam-macam buku ilmu pengetahuan, baik yang mengenai bahasa arab, syari’at, filsafat dan akhlak, maupun yang mengenai kesenian dan ekonomi, sehinggan penuhlah dengan buku-buku ilmiah perpustakaan-perpustakaan islam di kota-kota yang besar seperti cairo, cardova, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan anjuran Al Qur’an sendiri,ayat yang mula-mula turun ialah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yaitu :ARTINYA

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

[1589]  Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.(QS.Al Alaq : 1-5)

Demikian pula dengan surat Azzumar ayat 9 yaitu :ARTINYA

(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.(QS.Azzumar : 9)

Dan surat Al Mujaadilah ayat 11 yaitu :ARTINYA

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS.Al Mujaadilah:11)

Ilmu-ilmu pada masa keemasan islam dapat digolongkan menjadi empat,yaitu:

1. Ilmu bahasa arab

2. Ilmu Syari’at

3. Sejarah

4. Al hikmah dan filsafat (ilmu-ilmu selain bahasa dan agama)

1. ILMU BAHASA ARAB

Ilmu bahasa ini terdiri dari beberapa ilmu di antaranya ilmu Nahwu,ilmu Sharaf,Balaghah,ilmu Bahasa,dan ilmu ‘Arudh.

a. Ilmu Nahwu dan Sharaf

Pada mulanya bahasa arab dapat bertahan dengan kuat terhadap kemunduran yang mulai terasa pada akhir-akhir masa Bani Umaiyah,karena tampuk pemerintahan seperti jabatan panglima-panglima,gubernur-gubernur,dan kedudukan-kedudukan penting lainnya masih dipegang oleh orang arab yang bahasanya tetap bahasa (fasih) murni lebih lagi mereka amat fanatik terhadap bangsa dan bahasanya.Dimasa itu seorang pemimpin yang menyimpang dari tata bahasa yang fasih,walaupun sedikit saja sudah dianggap rendah dan tercela.tetapi karena berdirinya kerajaan Bani Abbas boleh dikatakan atas bantuan dan dukungan orang-orang Persia,terutama atas bantuan Abu Muslim Al Khurasi maka sebagai balas jasa diserahkannya kepada mereka beberapa jabatan penting dalam Negara.oleh karena yang memegang kekuasaan bukan orang arab lagi maka hilanglah perasaan bangga terhadap nasab dan keturunan.

Dengan berasimilasinya orang-orang arab kedalam masyarakat  Persia maka mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran,Hal ini menimbulkan kesadaran para ulama dan ahli bahasa Arab sehingga mereka membangun serentak untuk mempertahankan bahasa arab dari keruntuhannya. Dengan rusaknya bahasa arab maka tidak ada lagi yang dapat memahami Al Quranul Karim.untuk itu mereka mengarang ilmu Nahwu (Gramatika bahasa Arab) agar bahasa Arab itu bias di pahami dan di pelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab,sehingga mereka terhindar dari kesalahan-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih.

b. Balaqhah

Mereka menyusun pula ilmu balaqhah yang mencakup ilmu bayan,ma’ani dan badi’ untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-sgi I’jaz Al Qur’an.Ilmu ini disusun setelah selesai dikarang Nahwu dan Sharaf.kitab yang mula-mula dikarang dalam ilmu Bayan adalah Kitab Majazul Qur’an ,dalam ilmu Ma’ani  ialah Kitab I’jaazul Qur’an dan dalam ilmu Badi’ Kitab yang dikarang oleh Ibnu al-Mu’taz dan Qudamah bin Ja’far.

c. Ilmu Bahasa

Untuk memelihara pengertian dalam kata-kata Al Qur’an mereka mengarang kamus bahasa arab.pada mulanya kamus-kamus ini hanya merupakan kitab-kitab kecil yang mengupas bermacam-macam kata,seperti kata-kata yang berhubungan dengan manusia,binatang,tumbuh-tumbuhan dan benda-benda,kemudian muncullah Al Khalil yang mengumpulkan kata-kata bahasa arab dalam suatu kitab dan menyusunnya berdasarkan huruf-huruf yang dimulainya dengan huruf        karena itu kitab ini dinamakan “Kitabul ‘Ain”.kemudian disusun sebuah kamus yang tersusun huruf hija-iyah.lalu timbullah berbagai macam kamus.

2. ILMU SYARI’AIlmu syari’at terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan diantaranya Tafsir,Hadits,Fiqh,Ilmu Kalm dan lain-lain.

a. Tafsir

Di dalam Al Qur’anulkarim ayat-ayat yang muhkamaat (terang dan jelas artinya) dan ayat-ayat yang mutasyaabihaat,(kurang terang dan kurang jelas artinya atau dapat ditafsirkan). Para sahabat dalam memahami ayat-ayat Al Qur’an itu mempunyai pendapat yang berlain-lainnan, karena perbedaan cara memahaminya,seperti perbedaan                                                  dalam surat Al Baqarah ayat 238 ARTINYA :

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.

[152]  Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Demikian pula Mujahid berpendapat yang dimaksud dengan kata                 dalam surat Al Baqarah ayat 63

ARTINYA :

Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa”.

Ialah “Bukit” pada umumnya, sedang ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksudkan itu ialah bukit “Tursina”. Dan yang lain berpendapat, bahwa yang dimaksudkan itu ialah bukit yang bertumbuh-tumbuhan.

Karena adanya perbedaan ini, maka ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat, lalu berpegang kepada tafsiran Rasulullah dan hadist. Apabila mereka tidak mendapatkan hadist-hadist, maka lalu berijtihad sendiri dengan berpedoman kepada ayat-ayat yang lain dan hadist-hadist yang ada. Kadang-kadang mereka juga berpedoman kepada sejarah, terutama yang berhubungan dengan ayat-ayat yang mengenai kisah-kisah orang terdahulu.

b. Hadits dan Mushthalah Hadits

Hadist mempunyai nilai yang tinggi sesudah Al Qur’anul karim, karena banyak ayat-ayat Al Qur’an yang dikemukakan secara umum dan memerlukan perincian. Maka ayat-ayat itu tidak dapat difahami maksudnya dengan jelas dan terperinci kalau tidak berpedoman kepada hadist-hadist. Oleh karena itu maka timbullah keinginan para ulama untuk membukukan hadist-hadist Rasulullah. Apalagi setelah ternyata bahwa banyak sekali hadist-hadist yang lemah dan hadist yang palsu.

Pada mulanya hadist itu tidak dikumpulkan seperti Al Qur’anul karim, karena banyak ucapan-ucapan Rasulullah yang di maksudnya melarang emmbukukan hadist. Larangan itu antara lain  dalam hadist yang diriwatkan oleh imam Muslim dari Abu Said Al-Khudri, yang berkata: “bersabda Rasulullah s.a.w.:janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al Qur’an,hendaklah dihapuskan,dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku,maka tempatnya adalah neraka.

Tatkala ternyata ada hadist-hadist palsu yang diriwayatkan oleh orang-orang yahudi dan zindiq,maka untuk menyaring mana hadist yang shahih dan mana yang palsu, para Ulama hadist membuat pedoman-pedoman yang dapat menetapkan bahwa sesuatu hadist shahih atau lemah atau palsu,umpamanya dengan memeriksa pribadi-pribadi yang mula-mula meriwayatkan hadist tersebut sampai kepada perawi  yang terakhir. Pedoman-pedoman ini disusun menjadi suatu ilmu yang dinamakan Ilmu Mushthalah Hadist.

c. Fikq dan Ushulul Fikq

Al Qur’anul karim dan hadist-hadist menguraikan masalah pokok secara garis besar dan tidak mencakup semua masalah yang timbul kemudian, karena masalah-masalah itu tidak akan habis-habisnya sesuai dengan kemajuan dalam segala larangan kehidupan. Tentu saja ada masalah yang baru yang belum pernah terjadi dimasa Rasulullah s.a.w. untuk menetapkan sesuatu hukam dalam masalah yang baru itu,para ulama berijtihad dengan berdasarkan ijtihad mereka itu kepada Al Qur’an,sunnah dan ijma.

Dalam berijtihad ini ulama-ulama Hijaz mengutamakan hadist sebagai dasar hukam dan pelopor meraka adalah Imam Malik Bin Anas ( 713-789 M ),sedang ulama irak mengutaman pedoman mereka kepada qiyasdan pelopor mereka ialah Abu Hanifah ( 699-767 M).sebab maka mereka lebih mengutamakan qiyas sebagai pedoman mereka, karena hadist banyak yang lemah dan palsu.kemudian setelah ulama-ulama bertemu dan berkumpul dengan ulama-ulama Irak serta diketahui mana hadist yang shahih dan mana hadist yang lemah dan palsu, para ulama tersebut sama-sama mendasarkan ijtihad mereka kepada hadist dan apabila tidak terdapat hadist,barulah mereka mendasarkan ijtihad itu kepada qiyas. Akhirnya timbullahbeberapa madzhab, yang termasyur diantaranya ialah madzhab ini ada ulama-ulamanya yang terkenal.

Dalam berijtihad untuk menetapkan sesuatu hukam, haruslah mengetahui cara-cara mengistimbatkan untuk mengambil kesimpulan mengenai hukam itu dari ayat-ayat Al Qur’an dan hadist-hadist. Cara-cara ini mula-mula disusun oleh imam Syafi’I  ( 757-820 M ) dalam kitabnya yang bernama Ar Risalah. Ilmu ini kemudian terkenal dengan ilmu Ushulul fiqh. Lalu muncullah beberapa ulama yang melengkapi dan menyempurnakan ilmu ini dengan cara yang lebih baik.

d. Ilmu kalam

Persoalan aqidah ( keyakinan ) dimasa sahabat dan tabi’in adalah soal yang sudah tetap dan jelas berdasarkan Al Qur’an dan sunnah. Antara mereka tidak ada perselisihan pendapat dalam persoalan ini. Meskipun di dalam Al Qur’an terdapat beberapa ayat yang mutasyaabih, mereka tidak mempersoalkan, karena khawatir bila ayat-ayat itu dita’wilkan menurut pendapat mereka masing-masing,akan membawa kepada perselisihan dan mungkin menimbulkan perpecahan antara mereka sendiri. Tetapi setelah agama islam di anut oleh umat-umat yang dahulunya menganut bermacam-macam agama dan madzhab mereka tidak mau menerima sesuatu aqidah, kecuali setelah diperdebatkan dan diperbandingkan dengan aqidah mereka yang lama. Maka terpaksalah ulama islam yang melayani mereka dengan dalil-dalil dan hujjah-hujjah sesuai dengan cara-cara mereka berfikir. Hal ini mendapat sokongan dan bantuan dari khalifah-khalifah, di antaranya Khalifah Al-Mahdi yang mendorong ulama menulis dan menyusun ilmu kalam.

Akhirny dalam ilmu kalam ini timbullah dua golongan yang terbesar.golongan pertama ialah golongan Al  jama’ah dan golongan yang kedua ialah golongan Mu’tazilah, yang berbeda pendapat dengan golongan yang pertama dalam beberapa masalah. Golongan yang kedua ini dipelopori oleh Washil bin ‘Atha’.Madzab ini disokong dan dianut oleh pemimpin-pemimpin pemerintahan Abbasiyah.

Kemudian muncullah Abul  Hasan Al Asy’ari lahir di basrah ( 837 M ),wafat di Baghdad ( 935 M ) yang berusaha mengkompromikan madzhab Al jama’ah dengan madzhab mu’tazilah dan dia dapat mengemukakan suatu madzhab baru, yang kemudian dinamai madzhab Al-Asy’ariah. Selain dari itu ada lagi madzhab yang lain,seperti madzhab syi’ah,khawarij,ibadhiyah dan lain-lain.

3. SEJARAH

Sebabnya maka ulama-ulama islam banyak menulis sejarah, karena didalam Al Qur’an banyak terdapat kisah-kisah orang-orang yahudi, nasrani, shabiin dan majusi. Di samping itu ada pula terdapat hal-hal yang mengenai kejadian-kejadian yang penting dalam islam,seperti: peperangan badar,uhud,perdamaian hudaibiyah dan lain-lain. Kisah-kisah mengenai kejadian-kejadian tersebut terdapat pula dalam hadist-hadist nabi. Tetapi yang mula-mula dipentingkan oleh pembahas-pembahas dan penyidik-penyidik ialah mengenai sejarah Nabi Muhammad s.a.w.sendiri.

Kejadian-kejadian penting dalam islam amat dipentingkan pula oleh ahli-ahli sejarah islam, karena dalam kejadian itu banyak bahan-bahan yang dapat dijadikan dasar hukum bagi hubungan antara umat islam dengan umat islam lainnya. Kejadian itu misalnya peperangan-peperangan yang terjadi antara kaum muslimin sendiri, seperti perang jamal dan shiffin dan peperangan-peperangan yang terjadi antara kaum muslimin dengan bangsa-bangsa lain,seperti dengan bangsa Persia, romawi, afrika utara, spanyol dan lain-lain. Umpamanya: tindakan-tindakan yang diambil oleh Umar Bin Khaththab di negari-negeri yang di kalahkan, mengenai hubangan dengan ahli dzimmah ( orang-orang yang bukan islam yang dibawah kekuasaan kaum muslimin ), peraturan pajak, peraturan gaji tentara, yang kesemua itu ada dasarnya dalam Al Qur’an dan Hadist.

Apalagi perselisihan antara para sesame kaum muslimin itu telah mengakibatkan timbulnya persoalan-persoalan baru seperti soal khilafah, yaitu siapakah yang berhak menjadi khalifah? Apa yang berhak itu hanya orang Quraisy, atau keturunan ‘Ali, ataukah tiap-tiap muslim mempunyai hak untuk menjadi khalifah? Karena itu timbullah madzhab syi’ah dan khawarij yang masing-masing menguatkan pendirian dengan kejadian-kejadian sejarah sampai didalam kitab hadist sendiri dapat dijumpai beberapa fasal-fasal yang mengenai khilafah, syarat-syarat orang yang patut dijadikan imam yang ditaati,pembantu-pembantu imam dan keutamaan-keutamaan para sahabat.

4. AL-HIKMAH DAN FILSAFAT

Al- hikmah dan filsafat pada pokoknya mengandung empat macam ilmu,yaitu: manthiq, ilmu alam, ilmu pasti dan ilmu Ke-Tuhanan. Termasuk ilmu alam itu,ialah ilmu kimia, ilmu kedokteran, farmasi, ilmu hewan dan ilmu pertanian. Yang termasuk ilmu pasti ialah berhitung, aljabar, ilmu ukur, ilmu mekanika, ilmu falak, dan geografi, termasuk ilmu ke-Tuhanan ialah metafisika yaitu pembahasan mengenai pencipta, jiwa, jin, malaikat dan sebainya.

Mereka mempelajari ilmu-ilmu tersebut, karena dorongan Al Qur’an yang menganjurkan supaya mereka menuntut ilmu, dank arena didalamnya terdapat ayat-ayat yang berhungan dengan ilmu-ilmu tersebut.

Yang mengenai ilmu falak diantaranya seperti dalam surah yunus ayat 5:

ARTINYA

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui.

[669]  Maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah.(QS.Yunus : 5)

Dalam surat Yasin ayat 38-40 ARTINYA

Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

[1267]  Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, Kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, Kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.(QS.Yasin :38-40)

Yang mengenal ilmu hewan seperti tersebut adalah surat An Nahl ayat 66 :

ARTINYA

Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.(QS.An Nahl : 66)

Yang mengenal ilmu tumbuh-tumbuhan seperti tersebut dalam surat Ar Ra’d ayat 4 :

’ARTINYA

Dan di bumi Ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.(QS.Ar Ra’d : 4).

Yang mengenai ilmu Bumi dan Ilmu Alam seperti tersebut dalam surat Qaaf ayat 7-8 :

ARTINYA

Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata,Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).(QS.Qaaf : 7-8)

Dalam surat Saba’ ayat 18 :

ARTINYA

Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman[1238].

[1238]  yang dimaksud dengan negeri yang kami limpahkan berkat kepadanya ialah negeri yang berada di Syam, Karena kesuburannya; dan negeri- negeri yang berdekatan ialah negeri-negeri antara Yaman dan Syam, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman siang dan malam tanpa terpaksa berhenti di padang pasir dan tanpa mendapat kesulitan.(QS.Saba’ :18).

Yang mengenal roh seperti tersebut dalam surat Al Israa’ ayat 85 :

šARTINYA

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Yang mengenai jiwa seperti tersebut dalam surat Asy Syams ayat 7-10 :

ARTINYA

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(QS. Asy Syams :7-10)

Yang mengenai Qadha dan Qadar tersebut dalam surat Faathir ayat 11 :

ARTINYA

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.(QS.Faathir :11)

Karena ilmu-ilmu yang dimiliki oleh kaum muslimin tentang hal-hal tersebut di atas belum lengkap,maka mereka memulai usahanya dengan cara menterjemahkannya buku-buku dari bahasa asing Adapun usaha menterjemahkan dimulai sejak masa Bani Umayah(661-750M).dan digiatkan pada masa pemerintahan Abbasiyah (749-1258M).yang didorong oleh khalifah-khalifah.Abu Ja’far Al Mansur(754-775M) telah mendatangkan ahli-ahli terjemahan yang menterjemahkan kitab-kitab kedokteran,ilmu Falak,dan ilmu Pemerintahan dari bahasa-bahasa Yunani,Persia dan India.

Referensi

AlQuran dan Terjemahannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: