Fara08’s Blog

HIV/AIDS

Posted on: April 2, 2009

A. Pengertian HIV/AIDS

1. Virus HIV

HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.

Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa.

2. Penyakit AIDS

AIDS ( Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit yang menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS disebabkan oleh masuknya virus yang bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) ke dalam tubuh manusia. HIV dengan cepat akan melumpuhkan sistem kekebalan manusia. Setelah sistem kekebalan tubuh lumpuh, seseorang penderita AIDS biasanya akan meninggal karena suatu penyakit (disebut penyakit sekunder) yang biasanya akan dapat dibasmi oleh tubuh seandainya sistem kekebalan itu masih baik.

AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

B. Asal dan Penemu HIV/AIDS


Belum diketahui kapan dan darimana HIV/AIDS muncul, penemunya adalah :
1.      Dr. Luc Montaigner,dkk
2.      Dr. Robert Gallo
3.      J. Levy
4.      Komisi Taksonomi International.

C. Penularan  HIV/AIDS

v Media Penularan
1.       Cairan Darah dan produk darah
2.       Cairan Sperma
3.       Cairan Vagina

v Cara penularan :

  • Lewat cairan darah:
    Melalui transfusi darah / produk darah yg sudah tercemar HIV
    Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna Narkotika Suntikan
    Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah
  • Lewat cairan sperma dan cairan vagina :
    Melalui hubungan seks penetratif (penis masuk kedalam Vagina/Anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) ; atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.
  • Lewat Air Susu Ibu :
    Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina; kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
    Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.

Secara langsung (transfusi darah, produk darah atau transplantasi organ tubuh yang tercemar HIV), Lewat alat-alat (jarum suntik, peralatan dokter, jarum tato, tindik, dll) yang telah tercemar HIV karena baru dipakai oleh orang yang terinfeksi HIV dan tidak disterilisasi terlebih dahulu.

Karena HIV – dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi orang lain- ditemukan dalam darah, air mani dan cairan vagina Odha. Melalui cairan-cairan tubuh yang lain, tidak pernah dilaporkan kasus penularan HIV (misalnya melalui: air mata, keringat, air liur/ludah, air kencing).

Melalui hubungan seksual dengan seseorang yang terinfeksi HIV tanpa memakai kondom ,Melalui transfusi darah ,Melalui alat-alat tajam yang telah tercemar HIV (jarum suntik, pisau cukur, tatto, dll) ,Melalui ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada janin yang dikandungnya atau bayi yang disusuinya.

Dalam satu kali hubungan seks secara tidak aman dengan orang yang terinfeksi HIV dapat terjadi penularan. Walaupun secara statistik kemungkinan ini antara 0,1% hingga 1% (jauh dibawah risiko penularan HIV melalui transfusi darah) tetapi lebih dari 90% kasus penularan HIV/AIDS terjadi melalui hubungan seks yang tidak aman.

karena kegiatan sehari-hari Odha tidak memungkinkan terjadinya pertukaran cairan tubuh yang menularkan HIV. Kita tidak tertular HIV selama kita mencegah kontak darah dengan Odha dan jika berhubungan seks, kita melakukannya secara aman dengan memakai kondom

Seorang Odha kelihatan biasa, seperti halnya orang lain karena tidak menunjukkan gejala klinis. Kondisi ini disebut “asimptomatik” yaitu tanpa gejala. Pada orang dewasa sesudah 5-10 tahun mulai tampak gejala-gejala AIDS.

Hubungan seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan HIV, karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV lebih mudah masuk ke aliran darah. Dalam berhubungan seks vaginal, perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput lendir vagina cukup rapuh. Disamping itu karena cairan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina, kesempatan HIV masuk ke aliran darah menjadi lebih tinggi. HIV di cairan vagina atau darah tersebut, juga dapat masuk ke aliran darah melalui saluran kencing pasangannya.

v AIDS tidak ditularkan melalui :

  • Makan dan minum bersama, atau pemakaian alat makan minum bersama.
  • Pemakaian fasilitas umum bersama, seperti telepon umum, WC umum, dan kolam renang.
  • Ciuman, senggolan, pelukan dan kegiatan sehari-hari lainnya.
  • Lewat keringat, atau gigitan nyamuk

D. Pencegahan  HIV/AIDS

v Cara Pencegahan :

  • Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka
  • Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV)
  • Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.

v Ada tiga cara pencegahannya:

  • Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks)
  • Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya
  • Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom

v Ada dua hal yang perlu diperhatikan:

  • Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar
  • Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain

E. Tanda-tanda seseorang tertular HIV

Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 – 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi.

Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah:

  • Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
  • Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
  • Diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan)

Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa :

  • Batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
  • Kelainan kulit dan iritasi (gatal)
  • Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.

F. Peran Komunitas Lintas Agama dalam Pencegahan HIV/AIDS

DALIL-DALIL

1.   “Dan tidak kami utus engaku (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi manusia” (Al-Anbiya: 107).

2. “Dan janganlah kamu jerumuskan dirimu ke dalam bahaya dan kebinasaan.”
(Al-Baqarah: 195).

3. “Tidak boleh membahayakan dirimu sendiri maupun orang lain.”

4. “Setiap bahaya itu harus dihindarkan.” (Qa’idah Fiqh)

5. “Memilih dua perkara yang paling ringan bahayanya.”

6.    Maqashid al-Syari’ah al-Khams, khususnya yang berkaitan dengan Hifz al -Nafs (melindungi keselamatan jiwa) dan Hifz al-Nasl (melindungi keturunan).

AIDS atau Acquired Immunodefiency Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh sejenis virus yang disebut HIV yakni Human Immunodefiency Virus. Cara kerja HIV adalah menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, yakni sistem jaringan yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan-serangan penyakit.

Orang yang terinfeksi HIV, dalam waktu tertentu akan kehilangan kekebalannya dan mudah terkena penyakit apa saja dan sampai saat ini sulit sekali untuk disembuhkan, karena belum ditemukan  anti virus atau obat yang efektif bisa menyembuhkannya.

Karena itu HIV/AIDS adalah penyakit yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan bahkan sangat mematikan. WHO memperkirakan lebih kurang 25 juta orang telah mati karena terinfeksi HIV, sejak virus tersebut ditemukan pada tanggal 5 Juni 1981. Artinya, rata-rata setiap tahun lebih kurang satu juta orang mati sia-sia karena AIDS.

Anehnya, betapapun berbahaya dan menakutkannya virus ini, tidak mampu dihentikan ataupun dikurangi perkembangan penularannya. Apabila pada awal tahun sembilan puluhan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia hanya hitungan jari saja, sekarang jumlah pengidap dan mereka yang sudah terifeksi HIV/AIDS diperkirakan sudah lebih dari 150.000 sampai 180.000 sampai 200.000 orang.

WHO menyatakan bahwa pertumbuhan HIV/AIDS di Indonesia merupakan pertumbuhan tercepat di Asia. Ementara itu di seluruh dunia, WHO memperkirakan  jumlah pengidap dan yang sudah terinfeksi  HIV/AIDS sudah mencapai 45 juta orang.

Jika dilihat dari cara penularannya, HIV/AIDS termasuk penyakit yang tidak mudah menular. Karena penularannya memerlukan kontak langsung melalui hubungan seksual, melalui proses kehamilan, kelahiran atau menyusui, dan melalui jarum suntik.

Pada awal-awal kasus ini ditemukan, HIV/AIDS banyak ditemukan pada mereka yang memiliki perilaku homoseksual, tetapi sekarang ini yang terbanyak ditemuklan pada mereka yang sering berhubungan seks dan berganti-ganti pasangan seks (seks bebas atau prostitusi), dan penularan melalui penggunaaan jarum suntik yang dipakai secara bergantian oleh para pecandu narkoba. Tetapi yang pasti pandemic HIV/AIDS ini terjadi melalui perilaku-perilaku homoseksual, seks bebas, prostitusi dan narkoba.

Kita harus menjadi sangat prihatin, bahwa jika Indonesia disebut sebagai Negara yang mengalami pertumbuhan HIV/AIDS tercepat di Asia, maka artinya bahwa perilaku-perilaku yang menyebabkan terjadinya penularan HIV/AIDS seperti homoseksual, prostitusi, pergaulan seks bebas, dan penyalahgunaan narkoba tentu cukup marak di negeri ini.

Sementara, perilaku-perilaku tersebut notabene adalah perilaku-perilaku yang sangat tidak dijanurkan oleh ajaran agama atau bertentangan dengan ajaran agama. Persoalannya kemudian adalah bahwa meskipun jumlah mereka diperkirakan hanya lebih kurang 200.000 orang atau kurang dari 1/1000 dari jumlah penduduk Indonesia tetapi hal tersebut menjadi naïf, karena terjadi di Negara yang menggunakan dasar falsafah Ketuhanan Yang Maha Esa, atau Negara yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup masyarakatnya.

Maka, dapat dipastikan bahwa agama melarang perilaku-perilaku tersebut. Dalam Islam jelas sekali melarang prostitusi atau seke bebas yang dikategorikan dalam zina, seperti tersebut dalam Al Quran, surat Al Isra ayat 32 yang artinya: “Janganlah kau dekati perbuatan zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Kemudian, di ayat lain bahkan memerintahkan untuk emnghukum penzina-penzina tersebut. Al Quran juga mengisahkan bagaimana kaum Naib Luth dihancurkan oleh Allah karena tidak mau beriman dan senang melakukan hubungan seks dengan sesame lelaki (homoseksual).

Dalam ayat Asy Syu’ara 166 yang artinya: ”Dan mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia dan kamu tinggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, kamu adalah orang orang-orang yang melampaui batas”.

Demikian pula dengan narkoba. Narkoba dapat digolongkan dengan Khmar atau benda-benda yang memabukkan. Dalam surat Al Maidah ayat 90 dinyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam Injil juga dinyatakan bahwa kehidupan dosa seperti pencabulan, seks bebas dan narkoba adalah sesuatu yang dilarang. Hal ini dapat ditafsirkan secara jelas dari Roma 13:13 yang berbunyi: “Marilah kita hidup sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.”

Demikian pula dalam Galatia 5:20-21 juga secara jelas menyatakan: “….jauhilah perbuatan daging: pencabulan, kecemaran, perselisihan, iri hati, amarah, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.” Serta masih banyak lagi ayat-ayat yang melarang perbuatan yang sejenis dengan seks bebas, prostitusi dan narkoba dalam Injil terdapat pada Markus 7:21-23, Korintus 6:18, Kolose 3:5-6.

Dalam kita suci agama Hindu, larangan terhadap seks bebas juga dapat ditafsirkan secara jelas dari bunyi Sarasanuccaya 424 yang artinya: “Dari sekian banyak yang dirindukan, tidak ada yang menyamai wanita dalam hal membuat kesengsaraan, apalagi memperbolehkannya dengan cara yang tidak halal. Karenanya singkirkan wanita (pelacur) itu, walau hanya di angan-angan saja sekalipun hendaknya segera ditinggalkan.”

Kemudian dalam reg Veda X 33.3 yang artinya: “Kekacauan batin akibat dari dorongan seks, mengerogoti seperti tikus,” dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.

Larangan yang berkaitan dengan Narkoba, adalah sebagaimana ditulis dalam Bhagawadgita XIV.21 yang artinya: “Pintu gerbang neraka yang menuntun jiwatma ke lembah kesengsaraan ada tiga, yaitu: nafsu, amarah, loba. Oleh karena itu orang harus selalu menghindari dan mengendalikan hawa nafsu.” Ayat-ayat lain juga terdapat pada Nitisastrasargah XIV.3-4 dan para Reg Veda VIII.2.2.

Dalam pandangan Budha Dharma pandangan tentang hal ini juga tegas dinyatakan dalam tiga sila dari Pancasila Budhis, sebagai berikut: pertama, “Aku bertekad akan melatih diri menghindari pembunuhan mahluk hidup.” Kedua, “Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan asusila.”; dan ketiga, “Aku bertekad akan malatih diri menghindari segala minuman keras yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.

Karenanya, agama mempunyai tanggungjawab yang besar untuk menyelamatkan bangsa ini dari serangan HIV/AIDS.  Persoalan HIV/AIDS bukan hanya persoalan kesehatan atau kedokteran semata, bahkan yang terbesar adalah persoalan moral dan agama, persoalan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa HIV?AIDS adalah azhab bagi mereka yang berani menentang larangan Tuhan sebagaimana halnya pernah terjadi pada umat Nabi Luth. Tetapi menolong mereka yang berada dalam kesulitan dan kesengsaraan, menasehati dan mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang lurus adalah kewajiban para pemuka agama.

Jika pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dibagi dalam tiga bagian strategi, yakni prevensi (membentengi), represi (memerangi), dan rehabilitasi (memperbaiki), maka agama terlibat langsung dua hal, yaitu membentengi (prevensi) dan memperbaiki (rehabilitasi).

Yang terkait dengan strategi prevensi adalah bagaimana membuat masing-masing umat beragama menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan tabah menghadapi godaan setan yang berbentuk rayuan seksual ataupun kenikmatan narkoba. Hal ini dilakukan melalui peningkatan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Yang kedua adalah bagaimana membuat umat beragama mampu menciptakan daya nalarnya untuk memahami apa dan bagaimana efek dari penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkoba yang dapat menyebabkan tertular HIV/AIDS serta mengetahui tentang apa dan bagaimana kegananasab HIV/AIDS tersebut. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi dan pembelajaran tentang HIV/AIDS dan perilaku-perilaku yang menyebabkan tertularnya HIV/AIDS.

Kemudian yang terkait dengan strategi ketiga, yaitu “rehabilitasi” (perbaikan). Tugas para tokoh agama adalah bagaimana mengembalikan mereka yang tersesat ke jalan yang benar. Bagaimana mengubah penderitaan yang mereka rasakan menjadi sarana introspeksi, sehingga mampu untuk menyesali diri dan bertobat serta kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam proses rehabilitasi, yang tidak kalah pentingnya bagaimana mengajak keikutseraan masyarakat untuk tidak menambah penderitaan korban, yakni dengan cara mengucilkan atau berbuat diskriminasi terhadap para pengidap atau mereka yang terinfeksi HIV/AIDS.
Akhirnya dapat disimbulkan bahwa peran para pemuka agama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS sangat besar dan strategis.

Para Ulama dan pemuka agama adalah pimpinan, pengayom, pembina dan pembimbing umat. Kata dan petuahnya menjadi fatwa yang diikuti dan dilaksanakan oleh masyarakat.

Semoga peran para pemuka agama akan mampu membentengi para umat dari ancaman HIV/AIDS, sekalipun mampu meringankan penderitaan mereka.

v PANDANGAN ULAMA TENTANG HIV/AIDS

Bahwa penyebaran HIV/AIDS sudah merupakan bahaya umum (al-Dharar al-‘Am) yang dapat mengancam siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, umur dan profesi.

v PERANAN ULAMA

Ulama selaku pewaris risalah kenabian untuk mewujudkan rahmat bagi semesta, mengemban tugas dan peranan utamanya antara lain:

1.       Memberikan bimbingan, penyuluhan dan keteladanan kepada masyarakat sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama Islam bagi ketahanan umat Islam dalam menghadapi tantangan peradaban dan budaya global.

2.       Melakukan amar ma’ruf nahi munkar untuk membina dan melindungi kehidupan keluarga sakinah penuh mawaddah dan rahmah.

v SIKAP ULAMA

Mengingat tingkat bahaya HIV/AIDS tersebut maka wajib bagi semua pihak untuk mengikhtiarkan pencegahan dengan berbagai cara yang mungkin dilaksanakan secara perorangan maupun bersama, baik dari sudut agama, budaya, sosial maupun kesehatan.

v PETUNJUK UNTUK PENCEGAHAN PENYEBARAN VIRUS HIV/AIDS MENURUT PARA ULAMA

A. Untuk yang secara positif terkena HIV/AIDS :

1.  Bagi yang lajang agar melakukan puasa seks, melanggar ketentuan ini bukan saja berdosa besar karena perzinaan, akan tetapi juga berdosa besar karena menyeret orang lain ke dalam bahaya yang mengancam jiwa.

2.  Bagi yang berkeluarga wajib memberitahu pasangan (suami/isteri)-nya secara bijak perihal penyakit yang di derita, serta akibat-akibatnya.

3.  Bagi yang berkeluarga wajib melindungi pasangan (suami/isteri)-nya dari penularan penyakit yang dideritanya. Dalam keadaan darurat dengan cara antara lain menggunakan kondom dalam berhubungan seks antar mereka.

4.  Bagi yang lajang maupun yang berkeluarga diharamkan melakukan segala sesuatu yang dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain misalnya dengan mendonorkan darah.

5.   Bagi setiap pengidap HIV/AIDS dan penderita AIDS wajib memberitahukan tentang kesehatannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan jaminan kesehatannya.

B. Untuk yang potensial terkena HIV/AIDS.

1. Wajib memeriksakan kesehatan dirinya untuk mengetahui status positif/negatif.

2. Bagi pasangan suami isteri dalam keadaan darurat agar mengenakan kondom (dan alat perlindungan lain).

3.     Bagi pasangan yang akan nikah wajib memeriksakan status kesehatannya untuk mengetahui status positif/negatifnya.

C. Untuk Masyarakat Umum

Bagi masyarakat sendiri perlu meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan menuruti perintah dan menajuhi larangan-Nya, khususnya tentang larangan perzinaan dan hal-hal yang dapat mendorong kepadanya.

Bagi para Ulama perlu meningkatkan efektifitas (dengan pembaharuan metode dan pendekatan) dakwah kepada masyarakat untuk semakin meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan ketaatan kepada ketentuan-ketentuan agamanya.

Baik Ulama atau Pemerintah dan pihak lainnya meningkatkan langkah-langkah KIEM (Komunikasi, Informasi, Edukasi dan Motivasi) kepada masyarakat luas tentang bahaya, sebab musabab dan cara penanggulangan HIV/AIDS melalui kerjasama semua pihak.

Referensi

  1. Buku saku tentang AIDS yang diterbitkan oleh Yayasan AIDS Indonesia.
  2. (Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS)
  3. (KOMPAS https://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/23/muda/326457.htm)
  4. (UNICEF http://www.unicef.org/indonesia/id/Bersatu_untuk_Anak_Bersatu_lawan_HIV_AIDS_Bhs_Inds_.pdf)
  5. (Dr. Andi Utama – Puslit Bioteknologi LIPI http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0625/kes1.html)
  6. www.wikipedia.co.id
  7. http://spiritia.or.id/news/bacanews.php?nwno=0563
  8. http://www.crcs.ugm.ac.id/res_editorial_view.php?editorial_id=27
  9. http://indonesianmuslim.com/hivaids-bisakah-menjadi-agenda-bersama-dari-umat- islam.html
  10. http://id.wikisource.org/wiki/Muzakarah_Nasional_Ulama_tentang_Penanggulangan_Penularan_HIV/AIDS
  11. http://satudunia.oneworld.net/?q=node/1393
  12. pidato sambutan Menteri Agama RI Muhammad M Basyuni, pada acara Pertemuan Nasional HIV/AIDS Lintas Agama, tanggal 7 Mei di Kantor Menko Kesra Jakarta.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan

  • Tidak ada
  • No comments yet

Kategori

Arsip

%d blogger menyukai ini: